Sabtu, 03 Juni 2023

Obsessive Compulsive Disorder (OCD)

 

Pengertian OCD

Obsessive Compulsive Disorder atau disingkat OCD adalah bentuk masalah kesehatan mental yang membuat pengidapnya mempunyai pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku (paksaan) kompulsif. Contoh perilaku kompulsif misalnya mencuci tangan hingga berulang kali setelah melakukan kontak langsung terhadap sesuatu yang menurutnya tidak bersih. 

Pemikiran dan perilaku tersebut tidak mampu dikendalikan oleh pengidap. Meski pengidap bisa jadi tidak memiliki pikiran maupun keinginan untuk melakukan hal tersebut, ia seperti tidak berdaya untuk menghentikannya. Artinya, OCD bisa memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan pengidapnya.



Penyebab OCD

OCD adalah masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa di seluruh dunia. Sebagian besar diagnosis OCD terjadi pada usia 19 tahun dan lebih rentan menyerang anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan.

Sayangnya hingga saat ini penyebab pasti OCD belum diketahui. Namun ada beberapa teori bahwa beberapa hal berikut ini mungkin pemicunya:

  • Biologi. OCD mungkin merupakan akibat dari perubahan kimia alami tubuh atau fungi otak.
  • Genetika. Kemungkin OCD memiliki komponen genetik. Namun gen spesifik belum dapat diidentifikasi.
  • Dipelajari. Ketakutan obsesif dan perilaku kompulsif dapat dipelajari dari pengamatan secara bertahap dan dipelajari dari waktu ke waktu. Seseorang yang OCD mungkin tanda disadari mengamati dan mempelajari perilaku kompulsif dari anggota keluarganya. 

Faktor Risiko OCD

Meski penyebab pasti OCD belum diketahui secara pasti, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan mental ini pada seseorang, yaitu:

  • Riwayat keluarga. Orang yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan OCD, maka ia juga dapat memilikinya. Hal ini terjadi karena pengaruh genetika.
  • Gangguan di otak. Beberapa orang dengan OCD memiliki area dengan aktivitas sangat di otaknya. Selain itu, bisa juga karena rendahnya tingkat zat kimia (serotonin) di otak.
  • Pengalaman hidup. OCD lebih mungkin terjadi pada orang yang memiliki pengalaman hidup yang tidak menyenangkan. Misalnya, diintimidasi, dilecehkan, atau diabaikan. Selain itu, OCD dapat mulai terjadi setelah mengalami peristiwa penting dalam hidup, seperti melahirkan atau berkabung. 
  • Kepribadian. Orang yang rapi, teliti, metodis dengan standar pribadi yang tinggi lebih mungkin mengembangkan OCD. Selain itu, gangguan ini juga umum berkembang pada orang yang memiliki kecemasan atau memiliki rasa tanggung jawab yang sangat kuat terhadap diri sendiri dan orang lain.
  • Memiliki gangguan kesehatan mental lainnya. OCD mungkin juga berkaitan dengan gangguan kesehatan mental lainnya. Seperti, gangguan kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, atau gangguan tic. 
  • Lingkungan. Faktor lingkungan mungkin salah satu yang berpengaruh pada munculnya OCD pada seseorang. Kondisi ini akan lebih rentan pada seseorang yang tinggal di lingkungan yang tidak mendukung perkembangan psikis semasa kecil. Misalnya, anak sering diejek atau diremehkan karena kekurangan yang dimilikinya. Kondisi ini bisa memicu perasaan untuk melakukan hal yang sempurna.

Gejala OCD

Seseorang dengan gangguan mental OCD menunjukkan gejala obsesi, kompulsi, atau bisa juga keduanya. Gejala tersebut bisa sangat memengaruhi aspek kehidupan pengidapnya. Misalnya sekolah, pekerjaan, hingga relasi dengan orang lain. 

Obsesi adalah pikiran yang terjadi berulang kali, dorongan, atau gambaran mental yang bisa memicu munculnya rasa cemas. Sementara itu, kompulsi adalah perilaku yang dilakukan secara berulang. Pengidap kondisi ini akan mendapatkan dorongan untuk melakukan perilaku dalam menanggapi pemikiran obsesif. 

Kompulsi umum termasuk melakukan mencuci tangan berulang kali dan secara berlebihan. Bisa juga melakukan pemesanan atau mengatur suatu hal dengan cara yang khusus dan tepat. Selain itu, pengidap juga dapat memeriksa beberapa hal secara berulang. Misalnya, melakukan pemeriksaan berulang kali untuk memastikan apakah pintu sudah dikunci atau kompor sudah dimatikan. 

Gejala OCD bisa datang dan pergi, mereda seiring berjalannya waktu, atau bahkan menjadi lebih buruk. Pengidap bisa mencegah munculnya gejala dengan menghindari kondisi yang dapat memicu munculnya obsesi. Namun, ada pula yang memilih mengonsumsi minuman beralkohol atau obat penenang untuk mengurangi gejalanya. 

Sebagian besar orang dewasa yang memiliki OCD menyadari bahwa perilaku mereka tidak masuk akal. Namun, tak sedikit pula orang dewasa dan anak yang tidak menyadari hal ini. Tidak perlu khawatir, jika kamu ingin mengetahui lebih detail mengenai gejala yang kamu rasa seperti gejala OCD, kamu bisa konsultasi online dengan dokter psikolog Halodoc✔️ sebagai bentuk kesadaran terhadap kondisi kesehatan mental kamu sendiri.

Diagnosis OCD

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk menguatkan diagnosis OCD. Selain itu, pemeriksaan fisik juga dilakukan untuk membantu menghilangkan kemungkinan masalah kesehatan lainnya sekaligus memeriksa potensi komplikasi. Selanjutnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium penunjang, seperti perhitungan darah lengkap, pemeriksaan fungsi tiroid, dan skrining alkohol serta konsumsi obat.

Namun, langkah awal untuk mendiagnosa gangguan OCD adalah:

  • Evaluasi psikologis. Psikolog dapat mendiskusikan pikiran, perasaan, gejala, dan pola perilaku pengidap untuk menentukan apakah kamu memiliki obsesi atau perilaku kompulsif yang mengganggu. Diskusi ini mungkin juga dilakukan dengan keluarga atau teman terdekat, tentunya dengan seizin pengidap.
  • Kriteria diagnostik untuk OCD. Dokter atau psikolog mungkin menggunakan kriteria untuk melakukan diagnosa. Kriteria yang dimaksud merujuk pada Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association.
  • Pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengeliminasi masalah lain yang dapat menyebabkan gejala pada seseorang. Sehingga dokter dapat memeriksa komplikasi yang hanya berkaitan dengan OCD.

Pengobatan OCD

Sayangnya, OCD menjadi masalah kesehatan mental yang tidak dapat disembuhkan. Meski demikian, pengidap bisa mengurangi gejala yang dapat mengganggu aktivitas dengan menjalani beberapa perawatan. Pengobatan OCD terdiri dari konsumsi obat-obatan, menjalani psikoterapi, atau kombinasi antara keduanya. Meskipun sebagian besar pengidap OCD membaik setelah mendapatkan penanganan, beberapa lainnya terus mengalami gejala. Kamu bisa pelajari lebih lanjut pada artikel di bawah ini sebagai upaya sederhana yang bisa kamu lakukan untuk mengobati OCD.

(Baca lebih lanjut: Wajib Tahu, Ini Tips Sederhana untuk Mengobati OCD)

Terkadang, orang dengan OCD juga memiliki masalah kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan dismorfik tubuh (gangguan ketika seseorang memiliki anggapan yang keliru bahwa ada bagian tubuh mereka yang tidak normal). Jadi, sangat penting untuk melihat potensi adanya gangguan lain tersebut ketika menentukan pilihan perawatan.

Berikut ini beberapa pilihan perawatan untuk mengobati OCD:

1. Psikoterapi

Psikoterapi dengan terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu mengubah pola pikir orang dengan OCD. Dokter akan menempatkan pengidap dalam situasi yang dirancang untuk menciptakan atau memicu kompulsi. Sementara itu, kamu akan belajar untuk mengurangi dan kemudian menghentikan pikiran atau tindakan OCD.

2. Relaksasi

Teknik relaksasi dapat dilakukan dengan hal-hal sederhana, seperti meditasi, yoga, dan pijat. Cara ini dapat membantu pengidap mengatasi gejala OCD yang disertai stres.

3. Pengobatan

Dokter juga dapat meresepkan obat psikiatrik yang disebut inhibitor reuptake serotonin selektif. Obat ini dapat membantu pengidap mengendalikan obsesi dan kompulsi. Namun, diperlukan waktu dua hingga empat bulan untuk obat ini mulai bekerja. 

Obat psikiatrik yang umum diresepkan yaitu, citalopram, clomipramine, escitalopram, fluoxetine, fluvoxamine, paroxetine, dan sertraline. Jika gejala masih ada, dokter mungkin akan meresepkan obat antipsikotik seperti aripiprazole atau risperidone.

4. Neuromodulasi

Dalam kasus yang jarang terjadi, ketika terapi dan pengobatan tidak menunjukkan perbaikan, dokter mungkin akan mendiskusikan perawatan neuromodulasi pada pengidap. Pengobatan ini dilakukan dengan perangkat yang dapat mengubah aktivitas listrik di area tertentu di otak.

Alat stimulasi magnetik transkranial ini menggunakan medan magnet untuk merangsang sel-sel saraf. Prosedur yang lebih rumit ketika harus menstimulasi otak dalam, yaitu menggunakan elektroda yang ditanamkan di kepala. 

5. Stimulasi magnetik transkranial

Pengobatan ini dilakukan dengan perangkat non-invasif yang dipegang di atas kepala. Alat tersebut bekerja untuk menginduksi medan magnet dan menargetkan bagian otak tertentu yang mengatur gejala OCD.

Pencegahan OCD

Tidak ada cara yang pasti untuk mencegah OCD. Namun, mendapatkan pengobatan sesegera mungkin dapat membantu mencegah OCD memburuk dan semakin mengganggu rutinitas pengidap.

Komplikasi OCD

OCD yang tidak mendapatkan penanganan bisa berujung munculnya berbagai komplikasi yang berkaitan dengan masalah kesehatan mental pengidapnya. Seperti, stres, depresi, dan gangguan kecemasan. 

Selain itu, beberapa komplikasi yang dapat terjadi termasuk:

  • Kehabisan waktu karena tersita untuk melakukan kegiatan ritualistik.
  • Masalah kesehatan, seperti dermatitis kontak karena sering mencuci tangan.
  • Kesulitan untuk bekerja, sekolah, atau melakukan kegiatan sosial.
  • Mengalami masalah dalam hubungan.
  • Memiliki kualitas hidup yang buruk.
  • Memiliki pikiran dan perilaku bunuh diri.
Referensi:
WebMD. Diakses pada 2023. Obsessive Compulsive Disorder (OCD).
Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Obsessive-compulsive disorder (OCD).
Mind. Diakses pada 2023. Obsessive-compulsive disorder (OCD).
NHS. Diakses pada 2023. Overview – Obsessive compulsive disorder (OCD).

Diperbarui pada 2 Februari 2023.

Sumber: https://www.halodoc.com/kesehatan/ocd

Video tentang OCD



Minggu, 28 Mei 2023

BIPOLAR

Pengertian Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah gangguan mental yang menyebabkan perubahan suasana hati, energi, tingkat aktivitas, konsentrasi, serta kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Pengidap bipolar yang sebelumnya merasa sangat gembira bisa tiba-tiba berubah menjadi sangat sedih dan putus asa. 

Perubahan suasana hati secara tiba-tiba ini dapat memengaruhi kebiasaan tidur, tingkat energi, aktivitas, perilaku, dan kemampuan berpikir pengidapnya. Gangguan bipolar adalah kondisi seumur hidup. Artinya, gangguan kesehatan mental ini tidak bisa disembuhkan seutuhnya. Meski begitu, gejalanya bisa dikelola dengan baik melalui terapi dan pengobatan. 



Penyebab Gangguan Bipolar

Beberapa ahli berpendapat, kondisi ini disebabkan oleh ketidakseimbangan neurotransmitter atau zat pengontrol fungsi otak. Ada juga yang berpendapat bahwa gangguan bipolar berkaitan dengan faktor keturunan. 

Beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar adalah:

  • Mengalami stres tingkat tinggi.
  • Pengalaman traumatik.
  • Kecanduan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orangtua) yang mengidap gangguan bipolar.

Faktor Risiko Gangguan Bipolar

Terdapat beberapa faktor yang diduga meningkatkan risiko seseorang terkena gangguan bipolar, yakni:

  • Mengalami stres berat.
  • Kejadian traumatis.
  • Kecanduan akan minuman beralkohol atau obat-obatan terlarang.
  • Memiliki riwayat keluarga dekat (saudara kandung atau orangtua) yang mengidap gangguan bipolar.

Gejala Gangguan Bipolar

Terdapat dua fase dalam gangguan bipolar, yaitu fase mania (naik) dan depresi (turun). Pada periode mania, pengidapnya jadi terlihat sangat bersemangat, enerjik, dan bicara cepat. Sedangkan pada periode depresi, pengidapnya akan terlihat sedih, lesu, dan hilang minat terhadap aktivitas sehari-hari. 

1. Fase mania

Pengidap gangguan bipolar yang sedang berada dalam fase mania bisa menunjukkan gejala, seperti:

  • Sangat bersemangat, senang, dan mudah tersinggung atau sensitif.
  • Sangat gelisah.
  • Mengalami penurunan kebutuhan untuk tidur.
  • Kehilangan nafsu makan.
  • Berbicara dengan sangat cepat tentang banyak hal berbeda.
  • Merasa seperti pikirannya berpacu.
  • Berpikir bisa melakukan banyak hal sekaligus atau satu waktu.
  • Melakukan hal-hal berisiko, seperti makan dan minum secara berlebihan, menghamburkan uang, atau melakukan hubungan seks yang sembrono.
  • Merasa sangat penting, berbakat, atau kuat.

2. Fase depresi

Sementara itu, gejala gangguan bipolar fase depresi bisa berupa:

  • Sangat sedih, hampa, khawatir, atau putus asa.
  • Sangat gelisah.
  • Kesulitan tidur, bangun terlalu pagi, atau terlalu banyak tidur.
  • Peningkatan nafsu makan dan penambahan berat badan.
  • Berbicara dengan sangat lambat, merasa tidak ada yang ingin mereka katakan, atau banyak lupa.
  • Kesulitan berkonsentrasi atau membuat keputusan.
  • Merasa tidak mampu melakukan bahkan hal-hal sederhana.
  • Tidak berminat untuk melakukan semua aktivitas, dorongan seks yang menurun atau tidak ada, atau ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan (anhedonia).
  • Merasa putus asa atau tidak berharga, dan munculnya pikiran tentang kematian atau bunuh diri.

Berdasarkan perputaran episode suasana hati, ada sebagian pengidap gangguan bipolar yang mengalami keadaan normal di antara mania dan depresi. Namun, ada pula yang mengalami perputaran cepat dari mania ke depresi atau sebaliknya tanpa adanya periode normal (rapid cycling).

Ada juga pengidap yang mengalami manik dan depresi secara bersamaan. Contohnya, ketika pengidap merasa sangat berenerjik, tetapi di saat bersamaan juga merasa sangat sedih dan putus asa. Gejala ini dinamakan dengan periode campuran (mixed state). 

Jenis-Jenis Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:

1. Gangguan bipolar I

Jenis ini adalah gangguan bipolar yang paling parah. Pengidap setidaknya mengalami satu periode mania dalam hidup. Episode itu mungkin ekstrem dan berbahaya. Pengidap juga mungkin mengalami depresi. 

2. Gangguan bipolar II

Gejala gangguan bipolar II mungkin terlihat mirip dengan bipolar I, tapi jenis ini selalu memiliki episode depresi dengan hipomania sesekali. Gangguan bipolar II bukanlah jenis yang ringan, sebab beberapa pengidapnya seringkali mengembangkan gejala gangguan bipolar I.

3. Gangguan siklotimik

Gangguan ini merupakan jenis gangguan bipolar yang tergolong langka. Tingkat keparahannya mungkin tidak seperti bipolar I dan II. Namun gangguan siklotimik dapat berdampak besar pada kehidupan pengidapnya. 

Kamu mungkin mengalami periode gejala hipomania yang lebih singkat dan gejala depresi periode singkat. Gangguan siklotimik juga dapat berkembang menjadi bipolar I dan bipolar II. 

4. Gangguan bipolar campuran

Apabila dokter menambahkan “campuran” dalam diagnosa gangguan bipolar, maka artinya kamu mengalami mania dan depresi selama episode yang sama. Misalnya, kamu mungkin memiliki energi tinggi dan sulit tidur, tapi pada saat yang sama juga merasa putus asa atau memiliki pikiran untuk bunuh diri. 

5. Bipolar musiman

Mengutip WebMD, sekitar 25 persen orang dengan gangguan bipolar memiliki pola depresi musiman. Jika gangguan bipolar memiliki ciri musiman, pengidap akan mengalami episode depresi pada musim gugur atau musim dingin. Misalnya, pengidap bipolar I akan mengalami mania pada musim semi atau musim panas, sedangkan pengidap bipolar II akan mengalami hipomania selama bulan-bulan tersebut. 

6. Bipolar dengan siklus cepat

Seseorang mungkin menerima diagnosis bipolar I atau II “dengan siklus cepat”. Artinya, kamu memiliki empat atau lebih episode mania, hipomania, atau depresi dalam rentang waktu 12 bulan. Perubahan suasana hati dapat terjadi selama beberapa jam atau hari. 

Jika suasana hati berubah empat kali dalam sebulan, maka kondisi tersebut disebut dengan “ultra rapid cycling”. Meski begitu, tidak ada pola khusus selama periode ultra rapid cycling. Sebab, itu bisa terjadi kapan saja selama adanya gangguan. 

Diagnosis Gangguan Bipolar

Diagnosis lebih lanjut mengenai kondisi ini sangat dibutuhkan, sebab gejala gangguan bipolar mirip dengan kondisi lain. Seperti, penyakit tiroid, serta dampak dari kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA

Pemeriksaan yang dilakukan bisa dengan metode wawancara ke keluarga atau kerabat pengidap gangguan bipolar. Wawancara ini terkait gejala, seperti sejak kapan dan seberapa sering gejala muncul.

Kemudian, pengidapnya akan dirujuk ke psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa. Psikiater akan melakukan beberapa pengamatan terkait pola bicara, berpikir, dan bersikap.

Psikiater juga mungkin menanyakan riwayat penyakit keluarga, riwayat penyakit, hingga pola tidur. Pengidapnya juga mungkin akan diberikan kuesioner yang dapat diisi. Saat hasil pemeriksaan dirasa cukup, psikiater kemudian akan mengklasifikasikan kondisi seseorang berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Pengobatan Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar adalah penyakit seumur hidup dan gejalanya bisa datang sewaktu-waktu. Perawatan jangka panjang dan berkelanjutan dapat membantu pengidapnya mengelola gejala-gejala ini. Nah, berikut sejumlah perawatan yang bisa direkomendasikan dokter untuk pengidap bipolar:

1. Obat-obatan

Jenis obat yang umumnya digunakan untuk mengobati gangguan bipolar termasuk penstabil suasana hati, antipsikotik, dan antidepresan. Pengidap bipolar juga kerap kesulitan tidur sehingga dokter seringkali juga meresepkan obat tidur atau anti kecemasan. 

Hindari menghentikan pengobatan tanpa membicarakannya dengan dokter terlebih dahulu. Pasalnya, hal ini dapat menyebabkan “rebound” atau memburuknya gejala gangguan bipolar. 

2. Psikoterapi

Terapi bicara atau psikoterapi sering menjadi bagian dari rencana perawatan pengidap bipolar. Psikoterapi adalah istilah untuk berbagai teknik pengobatan yang bertujuan untuk membantu seseorang mengidentifikasi dan mengubah emosi, pikiran, dan perilaku yang mengganggu. Terapi ini dapat memberikan dukungan, pendidikan, dan bimbingan kepada orang-orang dengan gangguan bipolar dan keluarga mereka. 

Beberapa jenis psikoterapi yang dapat membantu yaitu:

  • Terapi ritme interpersonal dan sosial (IPSRT). Jenis psikoterapi ini berfokus pada rutinitas ritme harian, seperti tidur, bangun, dan waktu makan. Rutinitas yang konsisten memungkinkan pengidap dapat mengelola suasana hati yang baik. Kebanyakan orang dengan gangguan bipolar mendapatkan manfaat dari menetapkan rutinitas harian untuk tidur, diet, dan olahraga.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT). Terapi ini berfokus pada mengidentifikasi keyakinan dan perilaku negatif yang tidak sehat, kemudian menggantinya dengan yang sehat dan positif. Jenis terapi ini juga dapat mengidentifikasi pemicu episode bipolar. Pengidap pun dapat mempelajari strategi yang efektif untuk mengelola stres dan mengatasi situasi yang mengganggu.
  • Psikoedukasi. Melalui psikoterapi ini, pengidap dapat mempelajari tentang gangguan bipolar. Bahkan keluarga atau orang di sekitar pengidap pun dapat turut serta melakukan psikoedukasi, agar mereka mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana cara membantu dan mendapatkan dukungan. Pengidap juga dapat mengidentifikasi masalah, merencanakan pencegahan kekambuhan, dan tetap menjalani pengobatan.
  • Terapi yang berfokus pada keluarga. Pengidap bipolar memerlukan dukungan dari keluarga. Sebab, dukungan dan komunikasi keluarga dapat membantu pengidap tetap menjalankan rencana perawatan. Selain itu, keluarga dapat mengenali dan mengelola tanda-tanda peringatan dari perubahan suasana hati pengidap.

3. Electroconvulsive Therapy (ECT)

ECT adalah prosedur stimulasi otak yang dapat membantu pengidap bipolar yang mengalami gejala cukup parah. ECT umumnya diberikan bersama obat anestesi dan ini aman dilakukan. Pengobatan ECT biasanya diperlukan untuk mengobati episode depresif dan mania yang parah dan ketika pengobatan lainnya tidak membantu. 

4. Transcranial magnetic stimulation (TMS)

TMS sebenarnya pengobatan baru untuk stimulasi otak dengan menggunakan gelombang magnetik.  Penelitian menunjukkan bahwa TMS bermanfaat bagi banyak orang dengan berbagai subtipe depresi, tetapi perannya dalam pengobatan gangguan bipolar masih perlu diteliti lebih lanjut. 

Pencegahan Gangguan Bipolar

Penyebab pasti gangguan bipolar belum diketahui sehingga pencegahannya pun belum ditemukan. Meski begitu, seseorang yang mengalami gejala bipolar sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Perawatan ini juga perlu dilakukan secara berkelanjutan guna mencegah dampak serius dari gangguan bipolar. 

Jika kamu memiliki riwayat keluarga dengan gangguan bipolar, penting untuk mewaspadai tanda-tanda bipolar sedini mungkin. Hindari mengonsumsi zat yang dapat memicu episode mania atau depresi, seperti kafein dalam jumlah berlebih, alkohol, kokain, ekstasi, dan amfetamin.  

Komplikasi Gangguan Bipolar

Jika tidak diobati, gangguan bipolar dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang lebih lama dan lebih parah. Misalnya, episode depresi terkait bipolar dapat bertahan hingga 6 bulan, sedangkan episode mania dapat bertahan hingga 4 bulan tanpa perawatan berkelanjutan. Pengidap bipolar juga lebih berisiko untuk mengalami hal-hal berikut:

  • Penyalahgunaan zat (misalnya, alkohol atau obat-obatan).
  • Kecemasan.
  • Kondisi jantung dan kardiovaskular.
  • Diabetes.
  • Berat badan yang tidak sehat (seperti obesitas).
  • Pikiran untuk bunuh diri.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera temui dokter apabila mengalami tanda-tanda bipolar seperti perubahan suasana hati dalam jangka panjang, punya pikiran bunuh diri, agresif, konfrontasional dan sering kesulitan untuk tidur. Kamu juga bisa bertanya pada dokter di Halodoc terlebih dahulu agar lebih mudah. Jangan tunda sebelum kondisimu semakin memburuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2023. Bipolar Disorder
WebMD. Diakses pada 2023. Types of Bipolar Disorder
Medical News Today. Diakses pada 2023. Bipolar type definitions
Mind. Diakses pada 2023. What types of bipolar disorder are there?

Diperbarui pada 3 Februari 2023.

Sumber : https://www.halodoc.com/kesehatan/gangguan-bipolar


Video tentang Bipolar



Klasifikasi Penyakit Hirschprung

Penyakit Hirschsprung adalah gangguan pada usus besar yang menyebabkan feses atau tinja terjebak di dalam usus. Penyakit bawaan lahir yang t...